Orientasi Nilai-Budaya dan Pembangunan Nasional

Ditulis oleh: -
Oleh:Koentjaraningrat
ABSTRAKSI
Nama               : Hendri Prastio K
                        NIM                : 0911120118
                        Jurusan            : Sastra Jepang
                        Fakultas           : Ilmu Budaya
               Pada tahun 1969 menjelang REPELITA I dalam, LPI mengadakan seminar Perkembangan Sosial Budaya dalam Pembangunan Nasional, yang antara lain menghasilkan pernyataan bahwa bangsa Indonesia “secara Mental belum siap melaksanakan Pembangunan Ekonomi”. reaksi umum terhadap pernyataan itu adalah suatu sikap ragu-ragu, sedangkan beberapa orang, karena pada saat orang Indonesia
banyak yang ingin memulai usaha raksasa itu dengan I’tikad yang baik dan semangat yang berkobar-kobar, maka pernyataan yang tertera seperti di atas tentu sangat mengganggu dan banyak tokoh pembangunan yang pada waktu itu tidak sempat menanggapi pernyataan itu. karena mereka tidak mau memulai pembangunan nasional dengan sikap pesimis yang disebabkan oleh hal tersebut.
  Pandangan lain yang menyebabkan bahwa pernyataan yang dihasilkan oleh seminar LPI itu tidak diabaikan  adalah pandangan bahwa apabila pembangunan ekonomi dimulai dengan kecepatan yang setinggi mungkin, masyarakat Indonesia juga akan berubah apabila kemakmuran telah tiba sehingga nilai-nilai budaya baru juga akan mengubah mentalitas dari sebagian besar bangsa Indonesia.
              Ketidaksiapan mental dari sebagian besar bangsa Indonesia sudah tampak tidak lama setelah PELITA I mulai dilaksanakan dalam tahun 1969. Ternyata sebagian besar bangsa Indonesia  tidak dapat bekerja dengan teratur secara ketat dan kontinyu; ternyata banyak bansa Indonesia yang tidak sampai hati “merendah diri”-nya untuk berdagang atau member jasanya kepada orang lain; ternyata sebagian besar bangsa Indonesia belum berani mengambil resiko mengubah cara hidupnya yang lama serta bersikap terbuka, atau berani mencoba cara-cara hidup yang baru; ternyata sebagian besar bangsa Indonesia juga tidak bisa menghadapi hidup secara aktif, tidak bisa merencanakan hidupnya dengan secermat-cermatnya, tidak bisa mengendalikan dirinya untuk berhemat; ternyata sebagian besar orang Indonesia belum dapat menerima pranata-pranata yang baru, misalnya, keluarga kecil yang direncanakan. Olek karena itu tidaklah mengherankan bahwa sudah sejak PELITA I berjalan tampak berbagai negative akibat dari Pembangunan Nasional.
             Dalam Tap MPR NO.II/MPR/1978 “pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila,” telah tercantum daftar 32 sifat mental ideal yang diharapkan dapat menjadi unsure kepribadian dari sebanyak mungkin manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila. Dapat disimpulkan bahwa sekarang sebenarnya sudah ada suatu konsepsi ideal mengenai mentalitas atau system nilai-nilai budaya yang perlu dimiliki oleh sebagian besar bangsa Indonesia agar dapat tercapai hasil yang optimum dari usaha pembangunan nasional.
              Bangsa Indonesia sebenarnya sudah memiliki suatu syarat pembangunan berupa nilai Budaya gotong-royong dalam artian umum. Nilai-nilai budaya itu adalah, misalnya, konsep yang menganggap penting sikap tenggang rasa dan kepekaan untuk tidak berbuat semena-mena terhadap sesame manusia. Nilai budaya itu sangat penting untuk menanggulangi tekanan-tekanan masalah kehidupan masa ini karena kemungkinan orang untuk bekerja sama dengan sesamanya secara mudah, untuk bersikap toleran terhadap sesamanya yang berkeyakinan dan berpendirian lain, dan untuk bekerjasama dengan bangsa lain.
            Sebenarnya Nilai-nilai Budaya yang merupakan syarat bagi pembangunan sudah kita miliki. Namun nilai-nilai itu bias manghamabt  saat menanggulangi tekanan-tekanan yang ada.
Unsur-unsur nilai budaya adalah        :
·         unsur-unsur yang ada didalamnya hanya tinggal “dipelihara dan dipupuk”.
·         unsur-unsur nilai perlu disesuaikan dan dig anti dengannilai-nilai budaya yang baru.
·         unsur-unsur yang digunakan sebagai syarat untuk dapat maju.
Oleh karena itu harus dipelajari,di enkulturasi dan dibudayakan.
            Salah satu syarat pembanguan yang dimiliki Indonesia adalah Nilai Budaya Gotong Royong. Disisi lain nilai ini memungkinkan prang untuk bekerja sama dan bersikap toleransi. Namun disisi lain juga bias menghambat pembangunan karena sringkali manusai di hinggapai sikap ketergantungan kepada lingkungan sosialnya. Nilai Budaya yang lain adalah konsep bahwa manusia hidup selaras dan serasi dengan alam. Walaupun zaman sekarang kebudayaan itu tergeser oleh kebudayaan industry, tapi tak sepantasnya kita meggeser nilai salaras itu. Karena pembangunan industri yang berlebihan menyebabkan orang lupa akan alam.
            Nilai budaya yang berwujud mentalitas yakni konsep yang menyebutkan bahwa segala yang baik, merupakan sumber contoh tingkah laku yang berasal dari masa lampau.  Namun seiring perkembangan zaman mentalitas bersifat dinamikal, yang terbuka bagi hal-hal yang abru dan berorientasi pada masa depan.
            Nilai budaya Indonesia lainnya adalah konsep bahwa manusa harus hidup selaras atau serasi dengan alam. Namun, bangsa Indonesia sedang mengalami pergeseran kebudayaan, yaitu dari kebudayaan agraris ke kebudayaan industri.  Walaupun demikian budaya yang lama yang menilai tinggi hidup selaras dengan alam hendaknya tidak digeser dan ditinggalkan agar tidak timbul sikap yang tampak pada negar maju, yaitu bahwa pembangunan industry yang berlebih-lebihan dan gaya hidup metropolitan menyebabkan orang lupa akan keseimbangan hidupnya sendiri dengan alam. Oleh karena itu perlu adanya kemampuan bangsa Indonesia dapat membayangkan kesulitan-kesulitan dimasa yang akan datang sehingga timbul kebutuhan mengamankan masa depan dengan jalan menyisihkan sebagian dari pendapatan masa yang akan datang.
             Nilai Budaya Indonesia juga menghambat pembangunan adalah konsep bahwa manusia berorientasi vertical.artinya adalah bahwa manusia harus berpedoman kepada orang-orang yang senior dan orang-orang yang berpangkat tinggi, nilai ini perlu digeser karena menggambat berkembangnya tema berfikir yang mementingkan tanggung jawab sendiri.
             Nilai-nilai Budaya yang perlu untuk hidup menghadapi masalah dan tekanan-tekanan dunia masa kini adalah sikap mementingkan disiplin nuranu dan mementingkan tanggung jawab. Karena kedua sikap itu belum dinilai tinggi dalam kehidupan orang Indonesia pada umumnya.
Jadi usaha-usaha untuk mengembangkan mentalitas manusia Indonesia yaitu mengasuh dan mendidik anak Indonesia sejak mereka kecil dalam lingkungan keluarga. Oleh sebab itu perlu diadakan penelitian terhadap berbagai macam cara pengasuhan anak. Dengan jalan itulah akan terbentuk critical mass yang terdiri dari generasi baru yang memiliki mentalitas yang sesuai dengan pembangunan bangsa.

                                                                                     Malang, 3 Juni 2010
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
Orientasi Nilai-Budaya dan Pembangunan Nasional
Orientasi Nilai-Budaya dan Pembangunan Nasional ditulis Oleh Sekedar Wawasan pada 2012-03-01T22:44:00+07:00 dengan rating 4 oleh 95 voters on Sekedar Wawasan.

0 comments "Orientasi Nilai-Budaya dan Pembangunan Nasional", Baca atau Masukkan Komentar

Post a Comment

Berkomentarlah dengan baik dan bijak, tidak mengandung unsur Spam, Sara, Pelecehan.

Komentar yang melanggar ketentuan akan dihapus! Sekian Terima Kasih.